ASKEP HIPERBILIRUBINEMIA PADA NEONATUS PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA. Home current Explore. Words: 2, Pages: Preview Full text.

Author:Nazilkree Grozshura
Country:United Arab Emirates
Language:English (Spanish)
Genre:Video
Published (Last):25 March 2014
Pages:103
PDF File Size:17.80 Mb
ePub File Size:8.57 Mb
ISBN:996-8-16138-360-7
Downloads:23935
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Goltill



This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA. Home current Explore. Words: 2, Pages: Preview Full text. Oleh karena itu, kami juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun semangat, agar kedepan kami bias membuat makalah dengan lebih baik.

Dan kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami, khususnya pembaca dan pihak yang memerlukan pada umumnya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan Rahmat serta karunianNya kepada semua pihak yang telah turut membantu penyusunan makalah ini. Latar belakang b. Tujuan c. Kesimpulan b. Latar Belakang Ikterus neonatorum adalah ikterus yang terjadi pada neonatus pada minggu pertama kehidupannya.

Ikterus neonatorum merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan di antara bayi-bayi baru lahir yang jika tidak ditangani sejak dini dapat berakibat fatal Tb. Rudy Firmansjah B. Rifai, Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus.

Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Hal ini bisa diakibatkan oleh pemecahan eritrosit yang berlebihan, gangguan clearance metabolism, gangguan konjugasi atau gangguan ekskresi bersama air Sarwono et al, Ikterus neonatorum dapat bersifat fisiologis atau patologis.

Insidensi ikterus neonatorum patologis merupakan sebagian kecil saja dari ikterus neonatorum. Ikterus neonatorum patologis dapat ditimbulkan oleh beberapa penyakit seperti anemia hemolitik, polisitemia, ekstravasasi darah hematoma , sirkulasi enterohepatik yang berlebihan, defek konjugasi, berkurangnya uptake bilirubin oleh hepar, gangguan transportasi bilirubin direk yang keluar dari hepatosit atau oleh karena obstruksi aliran empedu.

Faktor risiko yang dianggap sebagai pemicu timbulnya ikterus neonatorum yaitu kehamilan kurang bulan prematur , bayi berat badan lahir rendah, persalinan patologis, asfiksia, ketuban pecah dini, ketuban keruh dan inkompatibilitas golongan darah ibu dan anak Fx. Wikan I, Ekawaty LH, Ikterus neonatorum dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius yaitu ensefalopati bilirubin yang dikenal dengan kern icterus Rina Triasih, dkk.

Kern icterus timbul akibat akumulasi bilirubin indirek di susunan saraf pusat yang melebihi batas toksisitas bilirubin pada ganglia basalis dan hipocampus. Sindrom neurologik pada kern icterus berupa kekakuan otot, gerakan irregular dan kejang sedangkan gangguan intelektual akibat kern icterus dapat timbul gejala setelah beberapa tahun kemudian Cloherty, Tujuan Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang asuhan ikterus neonatorum.

Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari Ikterus neonatorum? Apa penyebab ikterus neonatum? Bagaimana fatofisiologi ikterus neonatum? Apa saja tanda dan gejala ikterus neonatum? Apa saja klasifikasi ikterus neonatorum? Apa saja faktor resiko ikterus neonatum? Bagaimana pemeriksaan penunjang ikterus neonatum? Apa saja penatalaksanaan ikterus neonatoroum? Bagaimana asuhan keperawatan pada ikterus neonatorum?

Defenisi Ikterus adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa karena adanya bilirubin pada jaringan tersebut akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah Brooker, Ikterus adalah warna kekuningan pada kulit yang timbul pada hari ke setelah lahir, yang tidak mempunyai dasar patologis dan akan menghilang dengan sendirinya pada hari ke Etiology a. Peningkatan produksi Billirubin dapat menyebabkan: 1 Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah ibu dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.

Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksion yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti Infeksi, Toksoplasmosis, Siphilis.

Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif 3. Patofisiologi Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin merubah bilirubin yang larut dalam lemak menjadi bilirubin yang mudah larut dalam air di dalam hati.

Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan albumin Albumin binding site. Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.

Ketika RBCs rusak maka produknya kan masuk sirkulasi, dimana hemoglobin pecah menjadi heme dan globin. Globin protein digunakan kembali oleh tubuh sedangkan heme akan dirubah menjadi bilirubin unkonjugata dan berikatan dengan albumin.

Didalam liver bilirubin berikatan dengan protein plasma dan dengan bantuan ensim glukoronil transferase dirubah menjadi bilirubin konjugata yang akan dikeluarkan lewat saluran empedu ke saluran intestinal. Di Intestinal dengan bantuan bakteri saluran intestinal akan ddirubah menjadi urobilinogen dan starcobilin yang akan memberi warna pada faeces. Umumnya bilirubin akan diekskresi lewat faeces dalam bentuk stakobilin dan sedikit melalui urine dalam bentuk urobilinogen.

Pada BBL bbilirubin direk dapat dirubah menjadi bilirubin indirek didalam usus karena terdapat beta —glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan tersebut. Bilirubin inddirek diserap lagi oleh usus kemudian masuk kembali ke hati.

Keadaan ikterus di pengaruhi oleh : a. Faktor produksi yng berlebihan melampaui pengeluaran : hemolitik yang meningkat b. Gangguan uptake dan konjugasi hepar karena imaturasi hepar. Manifestasi klinik a. Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala: Dehidrasi: Asupan kalori tidak adekuat misalnya: kurang minum, muntah-muntah Pucat Trauma lahir: Bruising, sefalhematom peradarahn kepala , perdarahan tertutup lainnya.

Pletorik penumpukan darah : Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat, bayi KMK Letargik dan gejala sepsis lainnya Petekiae bintik merah di kulit. Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis Mikrosefali ukuran kepala lebih kecil dari normal.

Sering berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, penyakit hati Hepatosplenomegali pembesaran hati dan limpa Omfalitis peradangan umbilikus Hipotiroidisme defisiensi aktivitas tiroid Massa abdominal kanan sering berkaitan dengan duktus koledokus Feses dempul disertai urin warna coklat Pikirkan ke arah ikterus obstruktif, selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.

Klasifikasi Ikterus pada neonatorum dapat dibagi dua : Ikterus fisiologi Ikterus muncul pada hari ke 2 atau ke 3, dan tampak jelas pada hari dan menghilang hari ke Bayi tampak biasa , minum baik , BB naik biasa.

Penyebab ikterus fisiologis diantaranya karena kekurang protein Y dan , enzim glukoronil transferase yang cukup jumlahnya. Ikterus menetap setelah bayi berumur 10 hari pada bayi aterm dan 14 hari pada BBLR. Keadaan yang menyebabkan ikterus patologis adalah : Penyakit hemolitik Kelainan sel darah merah Hemolisis : hematoma, Polisitemia, perdarahan karena trauma jalan lahir.

Infeksi Kelainan metabolic : hipoglikemia, galaktosemia Obat-obatan yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : sulfonaamida, salisilat, sodium bensoat, gentamisin, Pirai enterohepatik yang meninggi : obstruksi usus letak tinggi, hirschsprung. Kadar bilirubin serum total Darah tepi lengkap dan gambaran apusan darah tepi Penentuan golongan darah dan Rh dari ibu dan bayi Pemeriksaan kadar enzim G6PD Pada ikterus yang lama, lakukan uji fungsi hati, uji fungsi tiroid, uji urin terhadap galaktosemia.

Bila secara klinis dicurigai sepsis, lakukan pemeriksaan kultur darah, urin, IT rasio dan pemeriksaan C reaktif protein CRP. Penatalaksanaan Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan : a. Menghilangkan Anemia b. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi c. Meningkatkan Badan Serum Albumin d. Menurunkan Serum Bilirubin a b a.

Fototherapi Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin.

Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi a boun of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin.

Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati Avery dan Taeusch Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.

Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. Berdasarkan hasil penelitian skripsi Dahru Bunyaniah mahasiswa keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun tentang pengaruh fototerapi terhadap derajat ikterik pada bayi baru lahir di RSUD Dr.

Moewardi menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh fototerapi terhadap derajat ikterik pada bayi baru lahir. Tranfusi Pengganti Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor : Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama. Bayi dengan Hidrops saat lahir.

Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible rentan terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi kepekaan c.

Menghilangkan Serum Bilirubin d.

PAULA ZUBIAUR PDF

Perawatan Pada Hiperbilirubinemia

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA. Home current Explore.

CIRCUITOS DE CORRIENTE ALTERNA KERCHNER CORCORAN PDF

Css Hyperbilirubinemia

Diploma thesis, Jurusan Keperawatan Neinatal hyperbilirubinemia will cause neonatal jaundice. This study aims to describe nursing care in neonatal hyperbilirubinemia with neonatal jaundice at Mangusada Badung hospital. This type of research is descriptive with case study design. The subjects were nurses who treat patients with hyperbilirubinemia infant jaundice neonatal nursing problems. The analysis used in a way menguraiakan answers obtained from interviews, observation and documentation in depth in response to the formulation of the problem by using narrative techniques. Diagnosis raised that neonatal jaundice.

CINSEL YOLLA BULAAN HASTALKLAR PDF

Case Hiperbilirubin Neonatus

Embed Size px x x x x Rani PittaArviana A. Definisi : keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir yaitu meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning. Bayi tampak biasa, minum baik, berat badan naik. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama kehidupan. Ikterus menetap sesudah bayi berumur 10 hari pada bayi cukup bulan dan lebih dari 14 hari pada bayi baru lahir BBLR. Ikterus yang disertai proses hemolisis inkompatibilitas darah, defisiensi enzim GPD, dan sepsis.

Related Articles